Tampilkan postingan dengan label Atasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Atasan. Tampilkan semua postingan

Agar Menjadi Atasan Disukai

atasan yang disukai



Agar Menjadi Atasan Disukai - Agar Menjadi Atasan Disukai. Itulah topik dunia kerja kali ini, sebelum kita bahas, ada baiknya saya beri tahu jika Anda butuh artikel mengenai komputer Anda dapat mengklik Teknik Komputer, oke mari kita bahas.

Menjadi atasan alias bos baru menjadi tantangan sendiri bagi Anda. Di satu sisi, Anda harus mampu membuat bawahan Anda taat dan mau menuruti perintah Anda, disisi lain Anda harus membuat agar bawahan menyukai Anda dan tidak merasa tertekan. Untuk itu, dengan kedudukan yang baru berarti ada beberapa hal yang perlu Anda perbarui juga.
  • Mengenal Bawahan
Mengetahui nama-nama bawahan Anda menjadi kewajiban yang harus dipenuhi. Tetapi, mengenal disini tidak cukup hanya mengetahui nama. Anda juga harus mengetahui karakter dan kemampuan masing-masing bawahan. Anda dapat menyesuaikan cara Anda berbicara atau bertindak setelah mengetahui karakter masing-masing bawahan.

Misalnya, apakah bawahan Anda orang yang mudah tersinggung. Jika demikian, ketika akan memberi tugas atau koreksi Anda harus berhati-hati agar tidak menyinggungnya.
Dengan mengetahui karakter dan kemampuan anak buah, Anda dapat mendelegasikan tugas-tugas pada orang yang tepat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Jika ada bawahan yang kurang memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan, Anda bisa membantunya secara khusus, misalnya dengan memberikan training sehingga anak buah Anda tidak merasa terbebani dengan tugasnya.


 
  • Belajar
Menjadi atasan baru bukan berarti kini Anda bisa bebas karena semua tugas bisa Anda berikan ke bawahan. Menjadi atasan berarti tanggung jawab Anda lebih besar. Kesalahan bawahan bisa jadi harus menjadi tanggung jawab Anda. Ini berarti Anda harus memastikan apa yang dikerjakan bawahan Anda sudah benar. Untuk mengetahui benar atau tidak, Anda perlu menguasai hal itu juga. Jika ini merupakan hal yang baru, berarti Anda perlu belajar tentang tugas-tugas ini.

Anda juga bisa kehilangan respek dari bawahan, jika mereka melihat Anda tidak menguasai hal yang Anda delegasikan. Kadangkala, mereka membutuhkan Anda sebagai tempat bertanya atau meminta saran Anda untuk mengambil keputusan. Agar mendapat jawaban yang tepat, tentu Anda harus belajar agar mngerti permasalahan secara menyeluruh.


  •  Ciptakan Keakraban
Walau kedudukan Anda lebih tinggi, ini bukan alasan bagi Anda untuk menjaga jarak dengan bawahan. Hilangkan sikap angkuh atau menjaga image secara berlebihan. Mungkin dengan berpikir bawahan Anda tidak setingkat dengan Anda atau pikiran bahwa agar mereka takut dan mau menuruti perintah Anda, maka Anda harus eksklusif.

Pikiran seperti ini tidak sepenuhnya benar. Akan lebih baik jika Anda mau berbaur dengan bawahan Anda dalam batas yang wajar. Memang harus ada sikap yang membuat atasan Anda merespek Anda, tetapi bukan berarti Nada harus benar-benar terpisah dari mereka. Sikap yang otoriter dapat membuat bawahan merasa kesal dan dapat membuat Anda kehilangan mereka. Salah satu hal yang dapat Anda lakukan agar tercipta keakraban diantara kalian misalnya dengan makan siang bersama atau pergi rekreasi bersama pada hari libur. Suasana yang akrab akan memudahkan mereka untuk menyukai Anda.

  • Siap Menerima Masukan
Masukan dari bawahan janganlah dianggap sebagai serangan untuk mengalahkan Anda. Coba dengarkan masukan mereka. Mungkin ada benarnya apa yang mereka sampaikan. Saran-saran ini jika direnungkan dan dibuat perbaikan tentu akan membuat diri Anda menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, dengan melihat sifat Anda yang mau menerima kritikan, bisa meningkatkan rasa respek mereka.
 
  • Perbaiki Penampilan
Jika sebelumnya Anda cuek dengan penampilan, ada baiknya Anda mulai mengubah kebiasaan ini. Penampilan memang bukan segalanya, tetapi penampilan akan mempengaruhi penilaian orang saat pertama kali berjtemu. Apalagi, sebagai atasan mungkin Anda harus presentasi atau meeting klien. Penampilan yang buruk dapat merusak citra perusahaan.

Sebagai atasan, Anda juga harus memberi teladan kepada bawahan, termasuk dalam hal penampilan. Anda tentu tidak merasa senang, jika penampilan Anda berantakan, maka dengan memberi teladan akan memudahkan jika akan memberikan saran tentang hal ini kepadanya. Penampilan yang bersih, rapi dan wangi dapat membuat mereka menghormati Anda dan mencegah pembicaraan yang tidak mengenakkan tentang penampilan Anda.
Menjalin kerja sama dan hubungan baik dengan bawahan harus terbina agar menghasilkan sesuatu yang baik. Dengan mewujudkannya, suasana akan menyenangkan dan pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik. Sehingga menambah nilai Anda di mata atasan.

Itulah pembahasan mengenai Agar Menjadi Atasan Disukai, terus ikuti update blog dunia kerja ini dan jangan lupa follow blog ini, selanjutnya Anda dapat menyimak artikel Resep Sehat yang menuntun Anda agar tetap sehat. Semoga bermanfaat.

Disiplin oleh Atasan Pria


Penerapan Disiplin Efektif oleh Atasan Pria



Efektifitas seorang atasan dalam melakukan tugas-tugas manajerial menjadi sangat penting untuk operasional perusahaan. Dalam sebuah jurnal yang berjudul Effective delivery of workplace discipline: Do women have to be more participatory than Men, oleh Joan F.B, Leanne E.A, dan David A.W. (2005), menujukan baik manajer pria maupun wanita memiliki derajat keefektifan yang sama dalam hal performance, motivation of the leader and employees, manajerial ability, employee dan group level productivity.


Perlu juga diperhatikan, tidak semua tugas manajerial efektif dilakukan oleh atasan pria maupun wanita. Manajer pria dan wanita memiliki perbedaan dalam strengths dan weaknesses untuk mencapai efektifitas tugas manajerial. Strengths dan weaknesses dapat terjadi karena faktor biologi atau perbedaan peran sosial.


Terdapat berbagai macam tugas manajerial dalam mengelola sebuah perusahaan, termasuk mendukung terwujudnya kedisiplinan para pekerja. Proses ini meliputi pengarahan dan mempengaruhi perilaku pekerja dalam menentukan, mana perilaku yang benar dan mana perilaku yang mendukung performa kerja. Bila proses ini terhambat, tentu akan mempengaruhi jalannya sebuah organisasi.


Bukan hanya manajer yang membawahi beberapa pekerja dan mengemban tugas manajerial, ini juga dilakukan oleh seorang supervisor. Supervisor memiliki kebijaksanaan dalam menentukan masalah mana yang memerlukan tindakan disiplin dan apa tindakan yang tepat dalam meresponnya.


Diungkapkan oleh Leanne E.A, James A.C, dan David A.W. (2000) dalam Journal of management, volume 27, penerapan disiplin akan efektif bila diemban oleh atasan pria dibandingkan oleh wanita. Sex role stereotypes dan peran sosial memiliki perbedaan dalam melihat pria dan wanita. Dimana wanita dianggap tidak unggul dalam penerapan administering discipline dibandingkan pria.


Kebanyakan orang percaya bahwa perilaku wanita diharapkan untuk bersikap lembut, sensitif, pasif dan suportif. Mereka akan menderita dan kurang efektif bila melakukan penerapan kedisiplinan pada pekerja dibandingkan pria.


Penerapan disiplin oleh atasan merupakan tugas yang membutuhkan karakteristik masculine. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Joan, dkk., pada 263 undergraduate business students menunjukkan bahwa, sekitar 85% responden mengatakan penerapan kedisiplinan oleh atasan cocok bagi mereka yang memiliki karakteristik masculine oriented. Sebesar 86% responden mengatakan penerapan hukuman juga membutuhkan karakteristik masculine oriented. Gender stereotype menunjukkan peran masculine oriented terjadi pada pria dengan feminine oriented pada wanita.


Namun, apakah ini terjadi dalam masyarakat kita? Munculnya penolakan gender stereotype antara peran masculine oriented pada pria dengan feminine oriented pada wanita, dimana penerapan kedisiplinan pada tugas atasan tidak hanya bisa dilakukan oleh atasan pria, yang menurut gender stereotype memiliki karakteristik masculine oriented, namun juga atasan wanita.


Sebuah penelitian oleh Supriyadi (2005) dalam jurnal Humaniora volume 17, 195-203 memberikan pandangan pada isu androgini yang saat ini berkembang, dimana batas karakter masculine dan feminine melebur tidak jelas. Sudah banyak munculnya kesadaran kaum wanita yang menganut pandangan androgini dalam gerakan mereka, seperti feminisme atau kesetaraan gender. 

Hubungan Sosial di Tempat Kerja




Di dalam perusahaan kita mengenal beberapa istilah modal. Ada modal dalam bentuk uang. Ada yang disebut modal manusia dan juga modal teknologi. Kalau di pertanian ada yang disebut modal lahan. Selain jenis modal tersebut ada juga yang disebut dengan modal sosial. Modal seperti ini tidak dijual belikan karena menyangkut nilai-nilai sosial seperti hubungan atau jaringan sosial sesama insan, saling mengerti, kasih sayang, kerjasama, dan saling percaya.


Hubungan atau jaringan sosial adalah syarat utama dalam menggerakan sumberdaya manusia suatu perusahaan. Salah satu bentuk hubungan sosial adalah kerjasama. Tidak mungkin proses produksi atau apapun dalam perusahaan akan terjadi sesuai harapan kalau jalinan kerjasama tidak terujud. Yang ada mungkin kejadian konflik, apatis dan skeptis. Sehingga akan merugikan berbagai pihak seperti kerugian perusahaan, kesejahteraan karyawan tidak tercapai, dan rendahnya mutu pelayanan pada pemangku kepentingan.


Tidak dapat dipungkiri pengelola perusahaan menginginkan adanya tim kerjsama yang solid di antara para karyawannya termasuk diantara manajernya. Intensitas hubungan vertikal dan horizontal yang efektif sangat dibutuhkan. Semakin mereka saling kenal mengenal maka semakin tumbuh saling kasih sayang. Pada gilirannya akan mudah menumbuhkan rasa saling percaya, kerjasama, dan koordinasi pekerjaan. Dengan demikian maka sinergitas antarkaryawan akan meningkat. Perasaan-perasaan superior di sementara divisiur secara sistematis akan berkurang. Dan berubah menjadi kesatuan unit kerja yang solid.


Seperti diketahui setiap perusahaan,sebagai organisasi modern, memiliki tujuan, strategi, dan kebijakan tertentu. Untuk itu dibuatlah aturan-aturan guna memerlancar pencapaian tujuan. Dalam aturan itu diperjelas tentang bagaimana proses pengambilan keputusan diambil, hak dan wewenang instrumen organisasi, standar prosedur kerja, dan uraian pekerjaan. Hal ini penting diuraikan agar setiap pengelola dan karyawan dalam melakukan tugasnya berpegang pada aturan-aturan yang ada. Namun di sisi lain ternyata dalam pelaksanaannya tidak saja berpegang pada posisi-posisi masing-masing namun juga pada pertimbangan pribadi setiap orang. Maka disinilah pentingnya hubungan sosial dipelihara dan dikembangkan.


Pengembangan modal sosial seperti ini perlu diprogramkan sejak awal. Khususnya ketika merekrut karyawan baru. Para karyawan baru perlu melakukan orientasi dan pelatihan. Sementara karyawan lama perlu melakukan reorientasi ketika ada kebijakan baru perusahaan. Jalinan-jalinan hubungan sosial harus terus dipelihara tidak saja lewat pendekatan formal namun juga informal. Bahkan dalam realisasinya jalur pendekatan individu berdasarkan saling percaya akan membuahkan suatu tim kerja yang efektif. Karena itu perusahaan selain melakukan fungsi kendali dan koordinasi yang terprogram maka kegiatan-kegiatan sosial di lingkungan perusahaan sangat dianjurkan. Dengan kegiatan ini maka dapat ditumbuh-kembangkan rasa persaudaraan yang tinggi. Tentu saja dengan pendekatan informal ini kadar komitmen dan keterikatan semua elemen perusahaan diharapkan akan meningkatkan kinerja karyawan dan perusahaan.

Cara Aman Ketika Bos Marah



Menjadi ‘anak buah’ saat ketemu manisnya mungkin bisa dalam bentuk adjustmen atau kita diajak makan dan ngopi bareng sama beliau. Namun pahitnya ketika Bos murka seolah mungkin ia akan menelan kita hidup-hidup. Tapi bos seperti ini sudah jarang dan hanya ada dijaman purbakala, tapi siapa tahu bos anda suka marah-marah, berikut tipsnya


Berikut tips aman ketika bos marah- marah:

  • Biarkan bos berkata apapun sampai kita mendapat kesempatan berkata: “Maaf bos.. dan menjelaskan duduk masalah jika ia salah paham.
  • Tetap tenang dan jangan ikutan bicara.
  • Dengarkan dan sesekali lihatlah gerak bibirnya sebagai ‘tanda’ bahwa anda memperhatikan ucapannya.
  • Jika bos tak dapat dikondisikan lagi, katakan ‘Ya’ dan biarkan bos anda pergi tanpa perselisihan lebih lanjut.
  • Jangan terlalu mudah mengikuti ajakan unjuk rasa, apalagi mogok makan, hal ini hanya akan menjadikan anda semakin kurus saja.
  • Adakan perbaikan terhadap apa yg dianggap bos kurang tepat, jadikan ini cambuk untuk makin berprestasi.
  • Jalani garis hidup anda dengan ikhlas untuk mencapai garis hidup yg lebih baik. Segala bentuk keikhlasan walau pahit pasti ada hikmah yang positif.
  • Semoga bermanfaat tips diatas, dan lebih sabar lagi jika anda mempunyai bos yang suka marah.

Jika Bos Adalah Teman

Jika kita bekerja pada perusahaan milik teman, dan bos kita adalah teman kita sendiri, dan kita bukanlah seorang rekanan atau partner, namun yang ikut bekerja pada pada perusahaan yang dipimpinnya, bagaimana kah perasaan kita menyikapi hal demikian? bisa biasa saja, agak kagok, canggung, atau malah easy going?

Relatif sih ya, bisa juga hal itu menjadi suatu keadaan yang memerlukan pengelolaan kebijkasanaan kita dalam bersikap, sebab bagaimana pun jika pimpinan atau bos kita adalah teman kita sendiri, sudah pasti akan ada macam-macam perasaan, disatu sisi kita merasa sudah akrab dan sebaya, nyeplos gak sengaja jika kelewatan bercanda, minta prioritas sudah pasti dan bekerja kurang suka jika ditegur karena merasa kemampuan setara, yang membedakan cuma rezeki dan kesempatannya, itu pikirnya.

Namun menurut saya, walaupun kita mempunyai bos atau pimpinan yang merupakan teman kita sendiri, malah akan melatih jiwa besar serta mental yang sehat, sebab disaat kita merasa teman kita sudah diatas dan kita masih saja dibawah , alih-alih malah ada dibawah teman kita level karirnya, kita bisa mengelola agar kemampuan kita bisa lebih berarti, kita bisa bersikap tetap menjunjung profesionalisme dalam hal pekerjaan, selagi dalam lingkup dan lingkungan pekerjaan, kita tak perlu merasa down atau rugi untuk tetap memakai etika ketika bekerja, seperti tetap memperlakukan teman kita sebagai layaknya bos, sewajarnya saja, memakai panggilan Pak atau bu, menerima teguran sebagai pembelajaran kritik membangun, tetap melakukan aktivitas sesuai aturan yang diterapkan, dan tetap mengikuti segala prosedur yang diterapkan disitu.

Jika diluar lingkup dan lingkungan pekerjaan, bisa kembali pada kebiasaan semula seperti layaknya kepada seorang teman.

Dengan begitu, selain kita tetap menjunjung tinggi profesionalisme, juga teman kita merasa dihargai dan merasa terbantu. Dan kalau kita ingin kemampuan kita sangat bernilai dan punya andil penting dalam perusahaan teman kita tersebut, kita bisa lebih memberikan kontribusi, inovasi dan segala ide kreatif untuk kemajuan perusahaan tanpa perhitungan atau memikirkan bahwa “Ah aku cuma bawahan dia, ngapain aku susah susah mikir.”  Jangan sesekali punya pemikiran semacam itu karena hal itu akan menghambat kemajuan dan menutup kemungkinan untuk diberi kepercayaan penuh.

Sebab jika kita sudah bisa membuktikan banyak kemampuan maupun kontribusi, bukan hal mustahil teman kita akan sepenuhnya memberi kepercayaan kepada kita malah disuruh memegang penuh untuk dikelola sendiri.

Jadi teruslah berkarya dan beri apapun kemampuan yang kita punya untuk kemajuan perusahaan, walaupun perusahaan itu milik teman kita sendiri, singkirkan sejenak ego dan perasaan kecil hati, justru sebaliknya, kita harus bisa terpacu dan teman kita yang sudah menjadi pemimpin itu bisa kita jadikan inspirasi untuk kemajuan kita.

Mengenal Kalimat Terlarang Pada Atasan

Tips Mengenal 9 Kalimat Terlarang Diucapkan Pada Atasan



Disadari atau tidak, kalimat yang Anda lontarkan pada atasan member pengaruh cukup besar pada perkembangan pada karir. Bila kalimat positif yang sering Anda ungkapkan, percayalah, ksempatan promosi tidak akan pernah lepas dari genggaman. Sebaliknya, bila kalimat negativ yang keluar, maka promosi pun enggan mampir pada Anda. Jika berharap karir meningkat dengan cepat, sebaiknya kuasai cara berbicara dengan atasan, apa yang sebaiknya dikatakan dan terlarang dikatakan. Berikut ini akan menguraikan 9 kalimat yang tabu (terlarang) dikatakan pada atasan:

1. ”Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan.”
Semua hal adalah mungkin. Jika Anda mengatakan, sesuatu tidak mungkin Anda lakukan, kalimat ini adalah harga mati. Atasan akan mendapat kesan, bahwa Anda mudah menyerah dan tidak maksimal dalam berusaha. Sebelum mengeluh, coba selidiki tujuan atasan memberikan tugas tersebut, apa yang sebenarnya diinginkan atasan. Meskipun target yang diinginkan tidak mungkin tercapai, lebih baik Anda mengkomunikasikan mengenai tantangan yang dihadapi dan mendiskusikan solusi untuk mengatasi tantangan tersebut.

2. “Saya tidak suka tugas ini.”
Ketika bekerja, mungkin saja Anda mendapat tugas yang disukai atau tidak disukai. Namun, apa pun kemungkinannya semua itu tetap tugas yang harus dikerjakan. Jika Anda menolak tugas atas dasar rasa suka dan ketidaksukaan, Anda akan terlihat sebagai orang yang suka pilih-pilih tanggung jawab, manja dan tidak siap menghadapi dunia pekerjaan. Nantinya, Anda akan semakin tersingkir dari kerja tim dan tanggung jawab lebih besar. Sebab, atasan tak mau mengambil risiko menghadapi penolakan Anda pada tugas yang diberikannya.

3. “Ini tak termasuk dalam deskripsi pekerjaan saya.” 
Selama yang diminta untuk di lakukan tidak jauh dari lingkup kerja perusahaan, sebaiknya jangan mengatakan kalimat di atas pada atasan. Sekarang ini, perusahaan menginginkan kerja tim yang fleksibilitas dari karyawan mereka, yang kadang menuntut pekerjaan di luar tugas sehari-hari, untuk meraih target. Jika Anda pikir tugas tersebut adalah ide yang buruk, coba jelaskan dengan alasan yang tepat mengenai pekerjaan tersebut lebih baik dikerjakan oleh orang lain. Hal ini lebih efektif daripada kalimat di atas.

4. “Ini bukan salah saya.”
Kalimat ini justru membuat atasan tidak mempercayai Anda dan terkesan Anda lebih senang melimpahkan kesalahan pada orang lain daripada mencoba bertanggung jawab. Jika memang terjadi kesalahan dalam tim, akuilah bersama lalu pikirkan dan berikan solusi untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan. Hal ini akan lebih simpatik di mata atasan. Bila yang terjadi adalah kesalahan individu dan kebetulan tidak disebabkan oleh Anda, coba jabarkan bukti bahwa Anda telah mengambil langkah yang benar.

5. “Belum Dikerjakan.”
Atasan mengaharapkan tugas yang dilakukan secepat mungkin setelah diberikan. Jika “belum” adalah jawaban Anda, akan membuat atasan kecewa dan ia akan mengira bahwa Anda suka menunda pekerjaan. Atau menganggap justru posisi yang diberikan terlalu tinggi. Meskipun tugas tersebut belum selesai, beri jawaban mengenai kemajuan yang telah dilakukan dan target Anda untuk menyelesaikan tugas tersebut.

6. “Saya tidak mengerti.”
Sesekali menanyakan kembali tugas yang telah diberikan atasan, boleh saja. Namun jika sering kali, membuat Anda terlihat kurang memperhatikan perkataan atasan Hal ini akan mengurangi poin Anda ketika tiba saatnya evaluasi untuk promosi jabatan. Apabil ingin menghindari kesalahpahaman mengenai tugasnya, coba ulangi pemahaman yang Anda terima. Hal ini lebih jelas dalam menggambarkan tingkat pemahaman Anda.

7. “Saya sudah tahu, tak perlu diajari.”
Mungkin Anda ingin menyampaikan bahwa Anda paham mengenai tugas yang diberikan dan cara yang harus dilakukan. Namun, kalimat ini akan menyinggung atasan Anda ketika mendengarnya. Lagipula, kalimat seperti ini cenderung menggambarkan orang yang keras kepala dan tidak bersikap terbuka terhadap kritik dan kurang berusaha memperbaiki diri.

8. “Pekerjaan ini sungguh melelahkan.”
Intinya adalah jangan mengeluhkan mengenai pekerjaan kepada atau dihadapan atasan. Hal ini membuat Anda terlihat kurang dewasa, kurang mampu untuk diberikan tanggung jawab lebih besar dan tidak tangguh. Hal ini memperkecil kemungkinan Anda ntuk meraih promosi jabatan karena menjadi ragu-ragu terhadap kemampuan Anda.

9. “Kenapa si X mendapat pekerjaan yang lebih mudah?”
Iri hati kepada rekan kerja akan menyebabkan atasan berpikir bahwa Anda tidak suka mendapatkan tanggung jawab lebih besar. Atasan akan berpikir bahwa Anda tidak menyukai tantangan yang biasanya pada posisi lebih tinggi. Lagipula, pernyataan ini seolah-olah menanyakan kebijakan yang diberikan atasan, padahal mungkin sebenarnya atasan memiliki tujuan lain ketika memberikan tugas itu.

Tips Menghadapi Bos baru yang Menyebalkan


Setiap karyawan pasti ingin memiliki atasan yang menyenangkan, mudah diajak kerja sama dan bijaksana. Sayangnya, tak semua beruntung mendapat pemimpin yang sesuai harapan.


Mungkin di kantor yang sekarang, ada atasan baru yang arogan, otoriter, galak, dan punya sifat menyebalkan yang lainnya. Jangan terburu-buru menulis surat pengunduran diri karena tak tahan dengan perlakuan bos baru yang 'semena-mena'. Biar bagaimanapun, Anda harus mencoba menghadapinya dulu sebelum memutuskan keluar.


Menangani bos yang 'sulit' bisa membantu Anda untuk meningkatkan karir, meraih kesuksesan dan baik bagi kesehatan mental. Kenapa? Karena Anda akan belajar untuk bersabar, tenang menghadapi masalah dan otak jadi terlatih untuk berpikir cepat di bawah tekanan.


Lalu, bagaimana cara menghadapi bos yang galak dan menyebalkan? Berikut ini tipsnya;


1. Profesional
Tahan emosi ketika atasan mulai bersikap 'Aku adalah raja' dan mencecar Anda dengan segudang tugas. Biar bagaimanapun menyebalkannya, dia tetap atasan Anda, dan Anda wajib menghormatinya. Jika pimpinan Anda adalah orang yang suka mencari-cari kesalahan karyawannya, cobalah berusaha bekerja atau menyelesaikan tugas kantor sebaik mungkin. Bersikap profesional akan mencegah Anda jadi sasaran amukan saat suasana hati atasan sedang tidak enak.


2. Buat Batasan
Bagaimana menghadapi atasan yang workaholic dan berpikir bahwa semua karyawannya juga harus mengikuti cara kerjanya? Anda bisa menolak perintah atasan jika sudah melebihi batas waktu kerja, tapi lakukan dengan cara yang sopan. Pertama, atasan Anda harus bahwa Anda tidak bisa menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk hanya dalam 24 jam.


Jadi, jika atasan selalu 'menghadiahi' Anda dengan setumpuk tugas, dan kelihatannya pekerjaan semakin banyak dari hari ke hari, sampaikanlah rasa keberatan Anda. Bukan dengan cara menolak terang-terangan, karena Anda justru akan terlihat seperti karyawan yang pemalas. Ketika dia memberi Anda segudang tugas dan memerintahkan untuk selesai hari itu juga, tanyakan seberapa darurat tugas itu dan mana yang harus diselesaikan saat itu juga. Berikan pengertian bahwa ada pekerjaan yang bisa dikerjakan di lain hari, sehingga Anda bisa fokus pada pekerjaan yang sekarang.


3. Hindari Drama
Sekesal apapun Anda dengan atasan, jangan pernah mengumbarnya ke seluruh kantor, apalagi ke rekan kerja yang berbeda divisi. Ketika Anda selalu mengeluhkan perlakuan atasan yang tidak baik ke setiap rekan yang Anda temui, Anda akan dicap sebagai 'drama queen' meskipun mungkin mereka juga tidak suka dengan sikap atasan tersebut.


Jika memang harus mengeluarkan keluh kesah, sampaikan hanya pada satu atau dua orang terdekat dan yang paling Anda percaya. Namun ingat, jangan juga terlalu banyak menceritakan tentang kejelekan atasan karena bisa saja menjadi bumerang bagi Anda suatu saat nanti.


4. Ambil Sisi Positif
Atasan Anda mungkin menyebalkan, tapi bukan berarti dia tidak memiliki sifat positif. Di samping perangainya yang galak, mungkin dia merupakan orang yang perhatian dan ingin karyawannya bisa cepat maju. Setiap Anda merasa sudah dibuat kesal, ingatlah sisi positif yang ada padanya. Dengan begitu, Anda akan sadar bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna dan akhirnya bisa lebih menerima sifatnya yang menyebalkan itu.


5. Bercerminlah pada Diri Sendiri
Anda tidak akan bisa menghadapi bos yang mengesalkan jika belum tahu bagaimana menghadapi diri sendiri. Sebelum berpikir bahwa bos Anda adalah orang yang paling 'jahat' di muka bumi ini, tanyakan dulu beberapa hal ini pada diri sendiri: 'Apakah saya karyawan paling bagus di kantor ini?', 'Apakah pekerjaan saya sudah sempurna?' atau 'Sudahkah saya disiplin dalam bekerja?'.


Bos baru Anda mungkin sebelumnya berasal dari perusahaan yang produktif. Mungkin dia juga diberi target untuk menyukseskan perusahaan atau memang memiliki etos kerja yang keras. Boleh saja merasa kesal dengan sikap menyebalkan sang atasan. Tapi jika Anda menanggapinya dengan terlalu emosional dan sensitif, Anda tak akan mendapat keuntungan apa-apa selain hati yang dongkol setiap harinya.